Kasus HIV AIDS di Indonesia dan Pencegahannya

Kasus HIV AIDS di Indonesia dan Pencegahannya

Kasus HIV AIDS di Indonesia

Kasus AIDS pertama kali di dunia dilaporkan pada bulan Juni 1981 di Los Angeles oleh dr. Gottlib. Kasus AIDS ini ditemukan pada 5 remaja gay yang aktif seksual. Semuanya terdapat penurunan sistem imun tubuh dan terdapat infeksi ikutan Pneumocystis carinii pneumonia atau disingkat PCP.

Kasus HIV AIDS di Indonesia pertama kali dilaporkan pada tahun 1987 di Bali oleh dr. Tuti Parwati. Kasus ini ditemukan pada wisatawan asing gay yang telah terdiagnosis terkena infeksi HIV 2 tahun sebelumnya.

Hingga tahun 2007 terdapat kurang lebih 33,2 juta kasus HIV AIDS di seluruh dunia dengan jumlah kasus baru HIV adalah 2,5 juta. Dari 32 juta penderita HIV AIDS tersebut terdapat 2,5 juta penderita adalah anak-anak.

Hingga 31 Desember 2011, kasus HIV di Indonesia mencapai 76.797 kasus dan kasus AIDS sebesar 29.879  kasus. Total kasus HIV AIDS di Indonesia adalah 106.758 kasus. Bila dahulu faktor risiko pengguna narkoba suntik (penasun) merupakan cara penularan tertinggi infeksi HIV di Indonesia, maka saat ini kelompok heteroseksual memiliki jumlah terbanyak.

Angka kasus HIV AIDS di Indonesia meningkat tajam sehingga saat ini Indonesia menduduki peringkat ketiga di Asia setelah Cina dan India. DKI Jakarta memiliki jumlah penderita HIV AIDS tertinggi di Indonesia, diikuti Jawa Timur, Papua, Jawa Barat, dan Bali.

Kasus HIV AIDS di Indonesia

Pencegahan kasus HIV di Indonesia

Pencegahan kasus HIV AIDS di IndonesiaAngka ini akan terus meningkat tajam bila tidak ada tindakan riil dari berbagai pihak. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat umum serta para pemuka agama perlu bahu membahu mencari jalan keluar. Stigma penderita HIV AIDS sangat melekat di kehidupan sosial rakyat Indonesia.

Pemerintah menjagorkan “mencegah HIV AIDS dengan meningkatkan iman dan takwa”. Himbauan pemerintah ini perlu dijabarkan lebih lanjut lagi dengan langkah-langkah yang dapat dilaksanakan di lapangan.

Terdapat 7 langkah dalam mencapai target “Indonesia bebas insiden infeksi HIV baru pada tahun 2015”, yaitu:

  1. Pencegahan penularan infeksi HIV secara vertical dari ibu ke anak melalui tes HIV dini.
  2. Pemberian obat antiretroviral pada penderita HIV AIDS.
  3. Pendistirbusikan obat antiretroviral ke pelosok daerah Indonesia yang memiliki risiko tinggi penularan HIV AIDS
  4. Menghimbau sirkumsisi (sunat). Data penelitian menunjukkan terdapat risiko penularan infeksi HIV pada individu yang telah melakukan sirkumsisi.
  5. Edukasi dan pengarahan kepada individu HIV positif mengenai keadaan sakitnya dan tidak menularkan penyakitnya ke masyarakat.
  6. Melindungi pria dan wanita yang memiliki risiko tinggi tertular infeksi HIV melalui pemberdayaan masyarakat.
  7. Menjaga produk darah bebas dari virus HIV.

Dalam pencegahan kasus HIV di Indonesia, terdapat tujuh langkah tersebut yang diharapkan dapat mewujudkan target pemerintah bebas kasus infeksi HIV baru pada tahun 2015, namun di luar ketujuh langkah tersebut ada satu metoda lain yang sudah terbukti dapat menurunkan angka penularan infeksi HIV, yaitu penggunaan kondom lateks.

Mungkin pemerintah menganggap masyarakat Indonesia belum siap untuk menerima hal ini, karena secara tidak langsung “mengijinkan” hubungan badan bebas, yang tidak sejalan dengan jargon “peningkatan iman dan takwa”. Namun di pihak lain, angka percepatan infeksi HIV di Indonesia sudah sedemikian tingginya sehingga membutuhkan suatu langkah yang riil dalam pencegahan kasus HIV di Indonesia.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +1 (from 1 vote)
Kasus HIV AIDS di Indonesia dan Pencegahannya, 5.0 out of 5 based on 1 rating

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>