Kekurangan Energi Protein pada Anak-Anak

Kekurangan Energi Protein pada Anak-Anak

Masalah kekurangan energi protein pada anak-anak masih kerap kali dijumpai terutama di daerah yang terpencil dimana pengetahuan yang memadai tentang pemberian asupan makanan yang baik tidak cukup tertularkan dengan baik. Bayi sebaiknya mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) setidaknya hingga berumur 6 bulan. Saat ini bayi disarankan hanya mendapatkan ASI sebagai sumber makanannya sehingga dikatakan juga pemberian ASI eksklusif. ASI mengandung zat imun yang meningkatkan daya tahan tubuh bayi dan mengandung semua kebutuhan bayi. Di masa pemberian ASI eksklusif, tidak ada susu formula yang dapat menggantikan ASI.

Masa bayi dan anak-anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang amat penting. Gangguan asupan makanan pada masa ini dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan, selain penyebab – penyebab lain seperti faktor genetik dan gangguan hormonal.

Di negara berkembang, masalah asupan gizi yang tidak adekuat merupakan penyebab terjadinya gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang utama. Informasi pentingnya ASI dan makanan tambahan selain ASI perlu dilakukan lebih baik lagi. Transfer ilmu ini tidak berjalan dengan sendirinya. Banyak pihak terkait yang perlu bahu membahu mengatasi masalah ini. Pencegahan dan peningkatan kualitas hidup merupakan hal yang jauh lebih penting dibandingkan bagaimana mengatasi anak dengan kekurangan energi protein. Dan masalah promotif ini merupakan tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah karena sangat terkait dengan sosio-ekonomi masyarakat pedalaman. Di daerah yang tidak terjangkau, pemerintah perlu memberikan perhatian yang lebih baik agar usaha peningkatan pengetahuan dapat berjalan dengan maksimal.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2010, terdapat 13% masyarakat dengan gizi kurang, dan diantaranya 4,9% berada di gizi buruk. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak PR untuk menurunkan angka kejadian gizi kurang dan gizi buruk di Indonesia.

Ada 3 jenis kekurangan nutrisi yaitu kwashiorkor, marasmus, dan marasmus kwashiorkor.

A. Kwashiorkor

Kwashiorkor merupakan keadaan kekurangan nutrisi terutama kekurangan protein. Umumnya keadaan ini terjadi akibat kurangnya asupan gizi yang sering terjadi di negara berkembang atau pada daerah yang mengalami embargo politik. Daerah yang sangat terpencil juga merupakan salah satu faktor terjadinya kondisi kwashiorkor.

Kurang energi protein kwashiorkorIndividu yang mengalami kwashiorkor dapat mengalam berbagai macam manifestasi atau gejala antara lain: penurunan berat badan, penurunan massa otot, diare, lemah lesu, perut buncit, bengkak pada tungkai, perubahan warna rambut, dan lain-lain. Seperti yang kita ketahui protein berfungsi dalam pembentukan enzim-enzim penting dalam tubuh. Kurangnya protein mengakibatkan kurangnya enzim tersebut. Pada anak kecil seringkali terjadi intoleransi laktosa akibat enzim pencernaan yang kurang dan hal ini mengakibatkan terjadinya diare pada anak-anak kurang energi protein.

Pada individu yang mengalami keadaan ini, pemberian makanan haruslah dilakukan.secara bertahap. Zat makanan pertama yang perlu diberikan adalah karbohidrat karena karbohidrat merupakan sumber utama pembentukan energi oleh tubuh. Setelah itu barulah lemak dan protein diberikan. Penatalaksanaan yang baik akan menyelamatkan nyawa anak tersebut namun efek gangguan perkembangan anak yang telah terjadi belum tentu akan pulih dan umumnya akan menetap. Keadaan kwashiorkor merupakan suatu keadaan bahaya yang dapat menyebabkan kematian oleh karena itu usaha promotif dan preventif adalah yang utama.

Pencegahan agar anak terhindar dari kwashiorkor adalah cukup mudah, tidak perlu ada obat-obatan yang wajib dikonsumsi. Pemberian makanan dengan komposisi yang baik sudah dapat “menjamin” bahwa anak tersebut tidak akan jatuh ke keadaan kwashiorkor. Karbohidrat harus merupakan sumber energi yang utama selain lemak (10% asupan), dan protein (12%).

B. Marasmus

Kurang energi protein marasmusKekurangan energi marasmus merupakan suatu keadaan kekurangan energi protein akibat rendahnya asupan karbohidrat. Keadaan ini acapkali ditemukan dan angka kejadiannya mencapai 49% pada kurang lebih 10 juta anak di bawah 5 tahun yang mengalami kematian di negara berkembang, sedangkan di negara maju angka kejadiannya tidak begitu tinggi.

Adanya kondisi fisik yang tidak baik merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kekurangan karbohidrat pada anak-anak. Kondisi fisik tersebut antara lain adalah penyakit jantung bawaan, retardasi mental, penyakit kanker, infeksi kronis, keadaan yang mengharuskan anak dirawat lama di rumah sakit. Anak akan tampak lesu dan tidak bersemangat, diare kronis, berat badan tidak bertambah.

Pemeriksaan untuk mengetahui apakah anak menderita marasmus dapat dilakukan melalui pengukuran tebal lipat lemak pada lengan atas, perut. Pemeriksaan ini memiliki keterbatasan karena rata-rata anak berusia di bawah 5 tahun memiliki tebal lipat lemak pada lengan atas yang tidak jauh berbeda.

Penelitian di Nigeria menunjukkan hal yang menarik dimana kadar kolesterol anak yang menderita marasmus lebih tinggi daripada anak yang menderita kwashiorkor. Alasan mengapa hal ini dapat terjadi masih belum dapat dijelaskan dengan baik.

Kekurangan energi protein pada anak-anak merupakan suatu keadaan bahaya yang perlu dilakukan tindakan segera. Kekurangan energi protein ini mengakibatkan perubahan komposisi tubuh, perubahan anatomi dan metabolisme tubuh yang bisa permanen jika tidak ditatalaksana dengan segera.

C. Marasmus kwashiorkor

Pada kekurangan energi marasmus kwashiorkor terdapat kekurangan energi kalori maupun protein. Mengapa ada anak yang jatuh ke dalam keadaan kwashiorkor, marasmus, atau marasmus kwashiorkor masih belum jelas dan masih membutuhkan penelitian yang lebih lanjut.
Namun semua bentuk kekurangan energi protein pada anak-anak ini disebabkan oleh asupan makanan bergizi yang tidak adekuat atau adanya kondisi fisik tubuh yang mengakibatkan makanan yang dikonsumsi tidak dapat diserap dan digunakan oleh tubuh selain adanya keadaan metabolisme yang meningkat yang disebabkan mungkin oleh penyakit kronis atau penyakit keganasan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Heird WC. Food insecurity, hunger, and undernutrition. Dalam: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 18th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier.

2. Spoelstra MN, Mari A, Mendel M, Senga E, van Rheenen P, van Dijk TH, et al. Kwashiorkor and marasmus are both associated with impaired glucose clearance related to pancreatic ß-cell dysfunction. Metabolism. Mar 2 2012.

3. Pelletier DL, Frongillo EA Jr, Schroeder DG, Habicht JP. The effects of malnutrition on child mortality in developing countries. Bull World Health Org. 1995;73 (4):443-8.

4. Joosten KF, Hulst JM. Prevalence of malnutrition in pediatric hospital patients. Curr Opin Pediatr. Oct 2008;20(5):590-6.

5. Pawellek I, Dokoupil K, Koletzko B. Prevalence of malnutrition in paediatric hospital patients. Clin Nutr. Feb 2008;27(1):72-6.

6. Akuyam SA, Isah HS, Ogala WN. Serum lipid profile in malnourished nigerian children in zaria. Niger Postgrad Med J. September 2008;15 (3):192-6.

7. Emery PW. Metabolic changes in malnutrition. Eye. October 2005;19 (10):1029-32.

8. Lazzerini M, Ronfani L. Oral zinc for treating diarrhoea in children. Cochrane Database Syst Rev. 2008;(3):CD005436.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 5.0/5 (2 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +1 (from 1 vote)
Kekurangan Energi Protein pada Anak-Anak, 5.0 out of 5 based on 2 ratings

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>