Saat Tenaga Kesehatan dipaksa untuk Menerima Tuduhan Kasus Malpraktek

Andaikan saja kita sebagai tenaga kesehatan yang telah berkecimpung di dunia kedokteran untuk jangka waktu yang cukup lama dipaksa oleh badan asuransi untuk menerima jalan damai setelah ada gugatan malpraktek yang masih perlu ditelusuri kebenarannya. Apakah kita akan menerimanya?

Pada banyak kasus, ternyata pihak asuransi memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Ada beberapa kasus yang dapat kita pelajari.

Kasus Mohan Papudesu MD vs Medical Malpractice Joint Underwriting Association of Rhode Island yang selesai pada tahun 2011 merupakan salah satu contoh. Dr. Papudesu saat itu diklaim pihak pasien karena kasus kematian yang seharusnya tidak terjadi. Seorang ibu hamil 8 bulan melahirkan bayi yang telah meninggal. Dr. Papudesu diklaim sedang tugas “on call” saat ibu tersebut datang berobat. Saat itu bayi masih hidup dan Dr. Papudesu tidak merespon dengan baik saat dihubungi melalui telepon. Pihak pasien menuntut Dr. Papudesu dan petugas kesehatan lainnya karena kematian bayinya. Dr. Papudesu menampik bahwa saat itu dia sedang bertugas “on call” dan tidak melakukan sesuatu yang salah.

Kasus ini dimulai tahun 2007 dan pihak penuntut meminta $500.000 sebagai ganti rugi, meskipun Dr. Papudesu menolak. Bahkan Dr. Papudesu menuntut balik atas perlakuan yang diterimanya. Dr. Papedesu percaya bahwa dia dapat membuktikan bahwa dia tidak bersalah di persidangan dan tidak menerima keputusan ganti rugi karena dia tidak bersalah dan hal itu akan merusak reputasinya. Namun pengadilan tinggi mengabulkan permintaan pihak penuntut. Meskipun Dr. Papudesu tetap menolak putusan itu, dia tidak dapat berbuat banyak karena pihak asuransi dimana dia bekerja menerima keputusan sidang. Dr. Papudesu merasa dia tidak bertanggungjawab atas kematian bayi tersebut dan menyesal bahwa pihak asuransi tidak mendukung dia seperti yang diharapkan.

Tenaga kesehatan sebaiknya benar-benar memahami kontrak yang telah ditandatanganinya dengan pihak rumah sakit atau asuransi kesehatan. Kasus ini memberikan contoh bahwa Dr. Papedesu terdesak dan tidak dapat berbuat banyak karena tidak memahami jelas butir-butir kontrak yang telah ditandatanginya. Jika tidak mengerti maksud dari butir-butir kontrak yang akan ditandatangan, sebaiknya para dokter dan tenaga kesehatan lainnya menghubungi pengacara untuk menjelaskan lebih baik.

Baca: “Apakah flu merupakan faktor risiko serangan jantung?

Sumber:

1. http://www.courts.ri.gov/Courts/SupremeCourt/OpinionsOrders/pdf-files/09-364.pdf

2. http://www.ama-assn.org/amednews/2011/05/23/prca0523.htm

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 5.0/5 (2 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +1 (from 3 votes)
Saat Tenaga Kesehatan dipaksa untuk Menerima Tuduhan Kasus Malpraktek, 5.0 out of 5 based on 2 ratings

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>